Ibu

22 Dec

Prolog, artikel yg di dapet dari milis

” Nak, bangun… sudah adzan subuh.
Sarapanmu sudah Ibu siapin di meja…”
Tradisi ini sudah berlangsung 20 tahun,
sejak pertama kali aku bisa mengingat.
Kini usiaku sudah kepala 3 dan aku jadi
seorang karyawan disebuah Perusahaan
IT, tapi kebiasaan Ibu tak pernah
berubah.” Ibu sayang… ga usah repot-repot Bu,
aku dan adik-adikku udah dewasa”…
pintaku pada Ibu pada suatu pagi.
Wajah tua itu langsung berubah.

Pun ketika Ibu mengajakku makan siang di
sebuah restoran. Buru-buru kukeluarkan uang dan kubayar
semuanya. Ingin kubalas jasa Ibu selama
ini dengan hasil keringatku. Raut sedih
itu tak bisa disembunyikan.
Kenapa Ibu mudah sekali sedih ? Aku
hanya bisa mereka-reka, mungkin sekarang
fasenya aku mengalami kesulitan memahami
Ibu karena dari sebuah artikel yang
kubaca … orang yang lanjut usia bisa
sangat sensitive dan cenderung untuk
bersikap kanak-kanak ….. tapi
entahlah…. Niatku ingin membahagiakan
malah membuat Ibu sedih.
Seperti biasa, Ibu tidak akan pernah
mengatakan apa-apa

Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya,
” Bu, maafin aku kalau telah menyakiti
perasaan Ibu. Apa yang bikin Ibu sedih ? ”
Kutatap sudut-sudut mata Ibu, ada
genangan air mata di sana .
Terbata-bata Ibu berkata,

” Tiba-tiba Ibu merasa kalian tidak lagi
membutuhkan Ibu.
Kalian sudah dewasa, sudah bisa
menghidupi diri sendiri.
Ibu tidak boleh lagi menyiapkan sarapan
untuk kalian, Ibu tidak bisa lagi
jajanin kalian.
Semua sudah bisa kalian lakukan sendiri ”

Ah, Ya Allah, ternyata buat seorang Ibu
.. bersusah payah melayani
putra-pu trinya adalah sebuah kebahagiaan.

Satu hal yang tak pernah kusadari
sebelumn ya. Niat membahagiakan bisa jadi
malah membuat orang tua menjadi sedih
karena kita tidak berusaha untuk saling
membuka diri melihat arti kebahagiaan
dari sudut pandang masing-masing.
Diam-diam aku bermuhasabah. .. Apa yang
telah kupersembahkan untuk Ibu dalam
usiaku sekarang ?
Adakah Ibu bahagia dan bangga pada
putera putrinya ?
Ketika itu kutanya pada Ibu, Ibu menjawab,

” Banyak sekali nak kebahagiaan yang
telah kalian berikan pada Ibu.
Kalian tumbuh sehat dan lucu ketika bayi
adalah kebahagiaan .
Kalian berprestasi di sekolah adalah
kebanggaan buat Ibu.
Kalian berprestasi di pekerjaan adalah
kebanggaan buat Ibu .
Setelah dewasa, kalian berprilaku
sebagaimana seharusnya seorang hamba,
itu kebahagiaan buat Ibu. Setiap kali
binar mata kalian mengisyaratkan
kebahagiaan di situlah kebahagiaan orang
tua.”
Lagi-lagi aku hanya bisa berucap,
” Ampunkan aku ya Allah kalau selama ini
sedikit sekali ketulusan yang kuberikan
kepada Ibu.
Masih banyak alasan ketika Ibu
menginginkan sesuatu. ”

Betapa sabarnya Ibuku melalui liku-liku
kehidup an. Sebagai seorang wanita karier
seharusnya banyak alasan yang bisa
dilontarkan Ibuku untuk “cuti” dari
pekerjaan rumah atau menyerahkan tugas
itu kepada pembantu.
Tapi tidak! Ibuku seorang yang idealis.
Menata keluarga, merawat dan mendidik
anak-ana k adalah hak prerogatif seorang
ibu yang takkan bisa
dilimpahkan kepada siapapun.
Pukul 3 dinihari Ibu bangun dan
membangunkan kami untuk tahajud.
Menunggu subuh Ibu ke dapur menyiapkan
sarapa n sementara aku dan adik-adik
sering tertidur lagi…
Ah, maafin kami Ibu … 18 jam sehari
sebagai “pekerja” seakan tak pernah
membuat Ibu lelah.. Sanggupkah aku ya
Allah ?

” Nak… bangun nak, sudah azan subuh ..
sarapannya sudah Ibu siapin dimeja.. ”
Kali ini aku lompat segera.. kubuka
pintu kamar dan kurangkul Ibu sehangat
mungkin, kuciumi pipinya yang mulai
keriput, kutatap matanya lekat-lekat dan
kuucapkan,

” Terimakasih Ibu, aku beruntung sekali
memiliki Ibu yang baik hati, ijinkan aku
membahagiakan Ibu…”.
Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan…
Ci ntaku ini milikmu Ibu…
Aku masih sangat membutuhkanmu. ..
Maafkan aku yang belum bisa menjabarkan
arti kebahagiaan untuk dirimu..

Saha bat.. tidak selamanya kata sayang
harus diungkapkan dengan kalimat “aku
sayang padamu… “,
namun begitu, Rasulullah menyuruh kita
untuk menyampaikan rasa cinta yang kita
punya kepada orang yang kita cintai
karena Allah.

Ayo kita mulai dari orang terdekat yang
sangat mencintai kita …
Ibu dan Ayah walau mereka tak pernah
meminta dan mungkin telah tiada.
Percayalah .. . kata-kata itu akan
membuat mereka sangat berarti dan bahagia.

Wall aahua’lam

“Ya Allah, cintai Ibuku, beri aku
kesempatan untuk bisa membahagiakan Ibu…,
dan jika saatnya nanti Ibu Kau panggil,
panggillah dalam keadaan khusnul khatimah.
Ampunilah segala dosa-dosanya dan
sayangilah ia sebagaimana ia menyayangi
aku selagi aku kecil ”

Titip Ibuku Ya Allah

Selamat hari Ibu

9 Responses to “Ibu”

  1. Ina December 22, 2007 at 6:21 am #

    Vertamaxxx!
    met hari ibu.😀

  2. harriansyah December 22, 2007 at 6:27 am #

    keduax

  3. caplang™ December 22, 2007 at 2:49 pm #

    ketigax…😦

    met hari ibu!

  4. cK December 23, 2007 at 4:21 pm #

    selamat hari ibu…😀

    *udah lewat sih*

  5. harriansyah December 28, 2007 at 6:44 am #

    @caplang & cK
    yoiii

  6. morishige_turun_gunung January 5, 2008 at 1:08 pm #

    terharu gw bacanya..
    serius..

  7. harriansyah January 7, 2008 at 2:01 am #

    @morishige_turun_gunung
    kasih tissue niy🙂

  8. Darmawan February 13, 2008 at 2:04 pm #

    orang tua memang selalu tidak akan pernah bosan untuk selalu mengingatkan kita akan kebaikan-kebaikan yang harus kita kerjakan

  9. harriansyah February 18, 2008 at 10:36 am #

    @Darmawan
    setuju sama sampeyan mas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: