Archive | Travelling RSS feed for this section

durian, aren, pasir merica dan sate rembige

24 Aug

Bener-bener postingan super telat, hehe. Kata orang better late than never (alasan) :).

Sebenarnya ini kegiatan sewaktu awal tahun lalu, selagi sosialisasi sistem yang telah dikembangkan ke beberapa wilayah yang dijadikan pilot. Piloting site ada 4 wilayah, penentuannya juga bukan dari kami, jadi kami hanya menjalankan kewajiban di 4 tempat tersebut. Kebetulan dapat kebagian wilayah NTB, dan akhirnya kesini (lagi) untuk yang bekerja sambil bermain (loh). Terlepas dari memakmai bekerja sambil bermain itu apa, silahkan intepretasikan sendiri. Yang penting buat saya kewajiban selagi tugas ter-deliver tidak kurang satu apapun, sisanya terserah anda. Kalau saya kita manfaatkan dengan baik dengan cara bermain 🙂 (opo to)

Continue reading

Ragam Kereta Becak

19 May

Becak merupakan transportasi yang kerap dijumpai disetiap kota di Indonesia. Setiap orang yang ada di Indo tentunya tidak asing dengan bentuk transportasi ini. Di Jakarta sendiri yang namanya becak sudah tidak dapat ditemui. Umumnya becak hasil modifikasi sepeda dan bangku panjang untuk penumpang. Di beberapa kota seperti Aceh dan Medan (saya nda tau kalau kota lainnya, nanti tak tambahin sendiri yo 😀 ) becaknya unik-unik. Kebetulan saya belum pernah ke Aceh, jadi saya mau share foto becak yang saya temui selagi berkunjung ke Sumatera Utara beberapa waktu lalu.

Dari beberapa foto yang saya ambil, bentuk becak yang ada di beberapa kota di Sumatera Utara ini memiliki perbedaan seperti terlihat pada kereta untuk penumpangnya. Sepertinya sih, selain jenis motor, bentuk kereta penumpang inilah yang mencirikan becak ini berasal dari mana (ini hasil sok tau saya ajah, hihihi). Tapi ada yang keren selagi melewati kota Siantar, hampir becak yang berlalu lalang jenis motornya dari motor besar meski sudah uzur tapi tetep keren. Secara di Jakarta banyak motor jenis ini ikutan club tapi disini dijadikan becak, that’s cool isn’t. Bicara tentang club motor, becak di Deli Serdang dan Brastagi diramaikan dengan jenis motor Thunder, malah saya sempat melihat Megapro dijadikan becak di Brastagi. Thunder bow !!, real partner dah :D. Kalau di Medan kebanyakan Mocinnya WIN 100.

BEMORU, Becak Model Baru
BEMORU, Becak Model Baru, Kota Medan

Becak Kota Medan
Becak Kota Medan

Becak Kota Pematang Siantar
Becak Kota Pematang Siantar

Becak Kota Deli Serdang
Becak Kota Deli Serdang, its Thunder !!.. Masuk TC lah lay 😀

Sidikalang, Dairi

19 May

Kebetulan minggu lalu “berkunjung” ke Sumatera Utara, tepatnya ke Kota Sidikalang, Kabupaten Dairi. Untuk menempuh Kota Sidikalang dibutuhkan waktu + 5 jam dari Kota Medan, what a great trip to take. Sebelum berangkat kita pusing-pusing kota Medan, terlebih dahulu. Suasana Kota Medan, kurang lebih mirip Jakarta, hanya kendaraannya tidak sepadat Jakarta, tapi panasnya melebihi Jakarta. Entah memang lagi panas, atau suhunya seperti itu. Selagi pusing-pusing kota Medan, saya banyak menemui suara kicau burung di bangunan2 tinggi, ternyata bangunan itu adalah sarang Burung Walet, dan kicaunya guna mengundang Walet agar singgah ke bangunan tersebut.


Komplek Sarang Burung Walet. Jl. Mesjid Medan, Kota Medan

Selepas Ashar, kemudian kita beranjak ke Sidikalang. Perjalanan menuju Sidikalang mengambil rute melalui Brastagi. Suasana menuju Brastagi kurang lebih seperti menuju Bogor ke arah Puncak, Jawa Barat. Tentunya suasananya tidak lagi panas, melainkan sejuk meski kabut belum menyelimuti (halah:D ). Jalur dua arah meliuk-liuk ditambah pemandangan hutan pinus mengurangi rasa eneg saya dalam perjalanan:D. Setelah melewati kota Brastagi, kita memasuki Kaban Jahe dan setelah melalui Kaban Jahe dan melawati pintu masuk Danau Toba Silalahi. Tidak lama berselang kembali memasuki jalan berliuk2, dan kami beristirahat di warung kopi. Kalau tidak salah waktu sudah setengah 7, tapi suasana belum gelap kalau di Jakarta kira2 sekitar jam setengah 6an namun kabut sudah turun. Kata teman saya, kalau tidak turun kabut pemandangan Danau Toba Silalahi bisa kelihatan dari warung kopi tempat kita istirahat. Setelah minum kopi dan makan telur bebek warna putih yang di rebus (nah makan telurnya pake lada+kecap asin, yummy) kita memutuskan jalan lagi. Jadi mau makan telor :D.

Pemandangan Kota Brastagi

Jalur Brastagi-Kaban Jahe

Danau Toba Silalahi

Di Warung Kopi Yang Jualan Telor Bebek Putih

Perlajalanan selanjutnya kita memasuki hutan pinus, jalannya tetap berliuk2. Tidak lama berselang kita melewati Taman Wisata Iman. Ini merupakan salah satu objek pariwisata yang dimiliki Kabupaten Dairi. Letak Taman Wisata Ini berada di atas bukit, dan tetap dikelilingi hutan. Tidak lama berselang jalanan sudah gelap dan hape tidak mendapatkan sinyal, semua operator bow. Penerangan hanya memanfaatkan lampu kendaraan, dan jarak pandang + hanya 1 meter jadi jalannya pelan2. Kondisi aspal juga tidak terlalu bagus, sehingga si pengemudi harus pintar2 mengendarai mobil ditambah penerangan yang minim jadi ekstra hati-hati. Selama itu pula kami melawati beberapa jembatan, dan seperti biasa klakson tiga kali sebelum memasuki jembatan. Mitos yang berkembang hampir di pelosok Indonesia, klakson tiga kali ketika memasuki jembatan sebagai permisi atau “numpang lewat”. Yah, percaya ga percaya.

Setelah kurang lebih setengah jam, kami melihat beberapa rumah yang menandakan sudah “ada kehidupan” :D. Keadaan sekitar seperti pemukiman pedesaan pada umumnya, jalur terdiri hanya dua arah, di sekitar kanan kiri terdiri dari pemukiman warga. Hampir tiap rumah disini memiliki parabola, karna maklum pemukiman warga berada di balik bukit jadi untuk mendapatkan siaran lokal saja warga membutuhkan parabola untuk dapat menonton siaran TV. Guyon teman saya, “disini, kalau rumahnya tidak ada parabola, TV hanya jadi pajangan saja bang”. Selama perjalanan di kawasan ini kita melewati 1 pom bensin, dan itu juga sudah tutup tapi kami melihat banyak warga menjual bensin eceran. Bahkan satu rumah di depan pom bensin yang sudah tutup menjual bensin eceran. Kata teman saya harga bensin eceran Rp. 5000, meski di balik bukit harganya normal ya.

Tidak lama kemudian kita sampai di kota Sidikalang, dan sebelumnya mampir ke kantor perwakilan. Kota Sidikalang terdiri pusat perdagangan wilayah sekitar, kotanya sendiri tidak begitu besar. Seperti kota pada umumnya, kota ini juga memiliki alun-alun (sayang tidak sempat mengabadikan), dan sisanya kantor perkantoran pemerintahan dan ruko-ruko, Bank, rental komputer, hotel, kedai makan, terminal, dll. Hasil pusing-pusing dikota ini, kita hanya melihat 2 hotel. gelap.jpgYang satu agak besar dan yang satunya biasa saja. Karna alasan jarak, kita memilih yang tidak begitu jauh dengan kantor perwakilan. Hawa kota ini sangat sejuk, kalau Anda pernah ke Ciwidey, Bandung, nah kurang lebih suhu dinginnya hampir sama seperti disana. Luar biasa dinginnya. Selama 4 hari disini, 2 kali saya mengalami pemadaman lampu bergilir, setiap pemadaman kurang lebih 3 jam’an. Untungnya meski secara geografis tempat ini berada di pedalaman, tempat ini masih terjangkau internet. Secara telpon bisa masuk, jadi tempat saya ini menggunakan linenya telkom, ya speedy gitu deh. Meski begitu speedynya lumayan kenceng, saya sempat remote2an via hamachi dengan kantor pusat. Secara blm make VPN2an gitu loh :D, jadi hamachi2an aza. Di hari terakhir, kita siap2 pulang dari pagi hari karna ada urusan ke Pematang Siantar. Jarak tempuh ke Pematang Siantar sekitar 3 jam’an, dan sekitar jam 11 kita sudah sampai di kota Siantar. Tidak seperti Dairi, Siantar sudah termasuk kota besar. Terlihat banyak Bank-Bank pemerintah dan swasta disini, juga sudah banyak warnet terlihat. Setelah menyempatkan sholat Djuhur disalah satu Masjid yang indah namun sayang tidak tahu namanya, kita cari tempat makan dan kemudian menuju Kota Medan dan sampai Polonia jam 6’an dan langsung siap2 ke Jakarta.

Mesjid di Siantar

Huhhh pas ngepas joo..

Ciwidey, Good to be true

13 Aug

Road map to Ciwidey on Friday August 10th, 2007.

Jum’at malam kita rencana jalan ke Ciwidey, Bandung. Meeting point di kantornya rekan, tempatnya di Plaza PP Jl. TB Simatupang. Rencana awal jam 20:00 or 20:30 dah sampai disana, tapi seperti biasa ngaret. Saya berangkat dari rumah ditemani 2 orang teman, Setelah itu kita baru langsung berangkat, tp sebelumnya kita cari makan dulu didaerah Kampung Rambutan. Setelah itu kita langsung berangkat lewat tol Cikampek dan sempat mampir dulu di tempat istirahat buat sholat Isya, yang keren di tempat istirahat ini Masjidnya bagus banget, namanya Masjid At Taubah.

Habis sudah mengagumi Masjid beserta tempat istirahatnya kita langsung ke Ciwidey. Keluar di tol Kopo langsung ambil kanan, dan tinggal ikutin jalan akhirnya kita sampai deh ditujuan. Sampai sana kurang lebih jam 1 or 2 pagi, tepatnya saya lupa setelah sempat keliling2 akhirnya kita tempat pemandian air panas alam Cimanggu. Biaya masuk ke tempat pemandian Rp. 6000/orang kendaraan tidak kena charge, jadi

continue reading

Deadly Weekend

6 Aug

Bener-bener dadakan, dari Jum’at malam lanjut sampai Minggu pagi. Deadly weekend with old pals.

Berawal saat Hari Jum’at kemarin, Sinta YM saya minta saya buka email, karena lagi tidak buka email saya minta penjelasan lewat YM aja. Ternyata isi emailnya selepas jam kantor nanti dia minta kumpul-kumpul karena udah lama juga tidak ketemuan, dan saat itu yang baru confirm baru satu orang yaitu Haryadi. Saat YM saya bilang ok-ok aja, karna selepas kantor rencananya saya mau kopdar Korwil Pusat TC 125 di Kwitang. Sewaktu chat saya sempat di telpon Sigit yang menanyakan rencana besok (Sabtu) kumpul2 anak-anak Pfizer di tempatnya Al. Sekalian saya bilang rencana Sinta ke Sigit, dan dia juga bilang ok dan minta dikabarin lokasinya kalau sudah fix. Setelah itu kita conference ama temen-temen lainnya, dan saat conference Dayu bilang ga bisa ikut karena ada janji. Setelah dicela-cela rayu akhirnya Dayu ok ikutan, dan lokasi ketemuannya di Roti Bakar caplang Edy.

continue reading