Archive | Life RSS feed for this section

durian, aren, pasir merica dan sate rembige

24 Aug

Bener-bener postingan super telat, hehe. Kata orang better late than never (alasan) :).

Sebenarnya ini kegiatan sewaktu awal tahun lalu, selagi sosialisasi sistem yang telah dikembangkan ke beberapa wilayah yang dijadikan pilot. Piloting site ada 4 wilayah, penentuannya juga bukan dari kami, jadi kami hanya menjalankan kewajiban di 4 tempat tersebut. Kebetulan dapat kebagian wilayah NTB, dan akhirnya kesini (lagi) untuk yang bekerja sambil bermain (loh). Terlepas dari memakmai bekerja sambil bermain itu apa, silahkan intepretasikan sendiri. Yang penting buat saya kewajiban selagi tugas ter-deliver tidak kurang satu apapun, sisanya terserah anda. Kalau saya kita manfaatkan dengan baik dengan cara bermain 🙂 (opo to)

Continue reading

Alhamdulillah Abang Sudah Selesai

24 Aug

Masih terkait dengan Almarhumah Ibu saya tercinta. Sebelum perawatan panjang Ibu saya yang terakhir di salah satu rumah sakit jantung rujukan nasional, pada pertengahan Januari tepatnya Hari Rabu tanggal 12 Januari 2011  adalah hari yang saya tunggu-tunggu dan sungguh sangat mendebarkan. 2 hari sebelumnya saya mengajukan cuti dari kantor untuk persiapan sidang yang dilaksanakan tanggal 12 Januari 2011. Sebelum berangkat pagi itu, saya meminta doa kepada Ibunda dan Ayahanda tercinta agar dimudahkan sidang thesis yang dilaksanakan siang harinya. Kondisi Ibu kebetulan saat itu masih sakit, payah betul memang keadaannya saat itu. Continue reading

Ibu

16 Jun

Time flies. Tidak terasa nanti malam kami akan melaksanakan tahlilan dalam rangka memperingati 40 hari wafatnya Ibunda tercinta. Insya Allah akan dilaksanakan setelah Shalat Isya, malam nanti. Hari ini, baru saja updating foto2 keluarga di picasa dari 2008 – terkini. Tak tahan juga air mata ini dan akhirnya keluar ketika melihat foto2 Ibu semasa perawatan pertama.

Ingin sedikit berbagi mengenai perjalanan Ibu dan infeksi pada katup jantung beliau. Sebelumnya, sekitaran Desember akhir 2010 kami memang sempat 2 kali ke poliklinik dan hasil pemeriksaan dokter yang menangani menyebutkan bahwa ada kebocoran jantung, tapi belum ada tindakan untuk dirawat Ibu. Kami berfikir masih bisa tertangani, karena reaksi dokter tersebut juga mengakatan “Biasa lah umur2 segini jantungnya bocor dan Ibu ada riwayat darah tinggi”. Sekitar 2-3 minggu setelah ke poliklinik tepatnya sehari setelah saya sidang thesis, tepatnya Kamis 13 Januari 2011 sekitar pukul 10 malam Ibunda tercinta masuk UGD karena amfal dan tidak sadar dan kemudian ditangani ternyata kekurangan darah dan sempet ditransfusi esok harinya  sekitar 3 kantong darah. Setelah menunggu di UGD hampir satu hari kemudian Jum’at malam Ibu mendapatkan kamar kemudian kami pindah ke Gedung Perawatan 2 lantai 4.

Setelah dilakukan pemeriksaan ternyata ada infeksi pada katup jantung Ibu, itulah yang mengakibatkan ritme nafas Ibu pendek dan tersengal-sengal. Hasil infeksi beliau adalah infective endocarditis, penjelasan dokter yang menangani ini jenis infeksi yang berat pada katup jantung. Berdasarkan penjelasan dan beberapa referensi di internet, yang bermasalah adalah katup jantung dimana ini adalah fungsi mekanik dimana treatment melalui obat-obat2an akan sulit mengingat fungsi mekanis yang rusak. Ibarat pintu rumah, jika pintu yang bermasalah tidak bisa membuka dan menutup maka harus diperbaiki pintunya. Jika masih bisa diperbaiki pintu direparasi, sebaliknya jika kondisinya lain harus diganti. Begitu juga dengan infeksi pada katup jantung Ibu. Setelah melalui beberapa tahapan dan perjuangan akhirnya pada Hari Senin, 21 Februari 2011 Ibu di laksanakan operasi pada siang hari jam 1 sampai sekitaran jam 5 dan Alhamdulillah terlaksana dengan lancar. Setelah operasi ditempatkan di ICU sekitaran 3 hari, setelah hari kedua pasca op masih diruang ICU kami sudah bisa melihat nafas ibu sudah kembali normal, tidak pendek2 dan ventilator mulai dicopot. Kemudian pindah ke ruang intermediate sekitaran 3 hari’an kemudian pindah ke ruang perawatan pasca operasi. Diruang pasca operasi Ibu diberi treatment fisioterapi seperti belajar jalan dan treadmill lalu diperbolehkan pulang ke rumah pada hari Jum’at tanggal 11 Maret 2011.

Setelah dirumah, minggu-minggu pertama kami senang melihat nafas Ibu yang memang sudah normal dan sudah bisa bercanda, belajar jalan dengan walker, ketemu tetangga diluar walaupun masih menggunakan kursi roda. Sebelum berangkat kerja biasanya saya dan adik ngajar Ibu keluar sambil menghirup udara pagi :). Namun ketika masuk minggu ketiga Ibu mulai batuk-batuk dan mual, gejalanya seperti yang sebelum dioperasi kemudian mulai sesak lagi. Saya mulai memperhatikan nafas Ibu. Ya betul, nafasnya mulai pendek lagi. Kami pun membelikan oxigen di daerah Pasar Pramuka dengan harapan sesaknya teratasi. Memang benar teratasi, namun hal ini berlanjut sampai akhirnya saat kontrolpun Ayah mengikat tabung oxigen Ibu dibelakang kursi rodanya. Saat kontrol dengan Dokter Jantung tidak diinstruksikan apa2 dan sarankan ke Dokter Bedah lalu dapat instruksi melakukan ECHO karena kondisi Ibu yang mulai tersengal nafasnya lantas selepas pemeriksaan echo dokter yang melakukan pemeriksaan menyarankan untuk dirawat. Karena posisi kantup jantung Ibu tidak bagus dan akhirnya Selasa 5 April 2011 Ibu di rawat dan kemudian masuk ke ruang intermediate. Sehari kemudian hasil echo resmi keluar dan diagnosisnya adalah reactivate infective endocarditis, yang mana kuman ganas yang kemarin tersebut ter-reaktifasi kembali. Lantas dapat usulan untuk dioperasi kembali (sito) pada weekend tepatnya dilaksanakan pada hari Minggu 10 April 2011 jam 8 pagi. Sebelum jam 8 pagi, Ibu ditransfer ke ruang operasi dan kali ini memakan waktu yang agak panjang sampai 4 sore dan Alhamdulillah berjalan dengan lancar dan hasil kultur darah sudah diketahui dan nama kumannya adalah MRSE. Berat memang perjuangan Ibu melawan kuman ini dan sampai akhirnya pada tanggal 7 May 2011 Ibunda tercinta berpulang kepangkuan sang Khalik.

Ibu merupakan kata tersejuk yang dilantunkan oleh bibir – bibir manusia.
Dan “Ibuku” merupakan sebutan terindah.
Kata yang semerbak cinta dan impian, manis dan syahdu yang memancar dari kedalaman jiwa.

Ibu adalah segalanya. Ibu adalah penegas kita dilaka lara, impian kta dalam rengsa, rujukan kita di kala nista.
Ibu adalah mata air cinta, kemuliaan, kebahagiaan dan toleransi. Siapa pun yang kehilangan ibinya, ia akan kehilangan sehelai jiwa suci yang senantiasa
merestui dan memberkatinya.

Alam semesta selalu berbincang dalam bahasa ibu. Matahari sebagai ibu bumi yang menyusuinya melalui panasnya.
Matahari tak akan pernah meninggalkan bumi sampai malam merebahkannya dalam lentera ombak, syahdu tembang beburungan dan sesungaian.

Bumi adalah ibu pepohonan dan bebungaan. Bumi menumbuhkan, menjaga dan membesarkannya. Pepohonan
dan bebungaan adalah ibu yang tulus memelihara bebuahan dan bebijian.

Ibu adalah jiwa keabadian bagi semua wujud.
Penuh cinta dan kedamaian.

:+: Khalil Gibran :+:

something missing me

25 May

Setiap pagi selalu ku cium tanganmu serta meminta doamu dan itulah yang kini ku rindukan #Ibu

Saat petang hendak kau mengaji, kesibukanmu di depan kaca selagi menata jilbab dan juga itulah yang kurindukan #Ibu

Duduk santai bersama sejawatmu menanti senja di depan beranda juga itulah yang kurindukan #Ibu

Dan dengan sabar menunggu dan keikhlasannya membukakan pintu ketika buah hatinya pulang, senyumannya lah yang juga kurindukan #Ibu

Selalu antusias mendengar cerita dari buah hatinya, raut wajahnya lah yang juga ku rindukan #Ibu

Serta kesederhanaan dan kesabaranmu lah yang juga kurindukan #Ibu

Nurhasanah

Lahir di Serpong, 9 October 1955

Wafat di Jakarta, 7 May 2010

We know you’re still around us

setelah muterin komplek

11 Dec

Sepertinya belakangan ini sering saya baca postingan wetiga, meski satu domisili akhirnya aku dan teman-teman baru malam ini bisa mampir kesana. Meski sebelumnya aku sempat muterin kompleknya gara2 salah masuk gang, hihihi. Setelah ngelirik 2 ekor temanku sudah nangkring di lesehan percis depan mabesnya dagdigdug, yo wis aku nda pusing2 lagi, tanpa komando langsung menyerbu gudang ransum makanannya wetiga. Monggo mas, langsung dikasih piring kecil. Dengan riak gembira Langsung tak sambut ae sambil tanya, “ini apa mas?” *sambil nunjuk ke makanan ky risol*, masnya “ini sosis solo mas“. Ga pake ba-bi-bu langsung tak comot sosis solo dan teman2nya.

Pas baru mo ke tempat temenku yg lagi leyeh2 di lesehan sebelah, separuh remang2 sepertinya aku melihat ada sesosok hantu orang yg ga asing lagi. Tak tegesin, ehh ternyata bener bukan orang, ini Mas Caplang yg lagi asik nongkrong mencari ilham sendirian sambil cengar cengir ditengah malam yang berkabut dan semerbak harum melambai-lambai. Hehehe. Akhirnya Mas Caplang ikutan lesehan bareng2 kita di sebelah, setelah memberitahu kl dia bilang tehnya enak ga lama masnya pulang. Aku penasaran tak cobain, ternyata benar tehnya uenak, meski ga kental tp kerasa. Racikannya top, nanti kasih tau aku ya. Sambil ngeteh sambil nyobain nasi kucing dan sate usus yg manis2 kayak aku itu, trus ditambah susu jahe buat ngangetin badan.

Ga lama setelah formasi lengkap, ada orang yg mau minta dipoto trus mo dimasukin ke blog. Awalnya kita-kita termehek-mehek ga ngerti ada apa gerangan, eh tau-tau yg moto itu juragannya wetiga. Setelah sempet minta tolongin moto, dan ngobrol2 sebentar akhirnya juragannya pamit dan si banci-banci foto ini lanjut foto2. Overall makanannya mantab, aku ga itung tusukannya tapi pastinya banyak je. Tapi kata temenku yg sosis solonya kurang manis, tp buatku udah pas je (mungkin karna lidahku ini lebih banyak toleransi ala mahasiswa, heheheh. sedangkan dia nda).

Ga cuma itu. Aku, anang dan mbaknya atik dapet oleh2 dari sang mami yang baru pulang liburan sama si Dayu, thx mam. Dan akhirnya nongkrong dapet kaos juga ed, :mrgreen:

Btw lagi terngeh-ngeh sama tampilan dashboard barunya WP

she’s red

12 Mar

with red cardigan
she look so gorgeous last night
yea, gorgeous
never seen this before

gorgeous as a rose
the rose that freeze me up
like a stone

wish I can pick that rose
is she realize that…

Tambal 5 Bayar 3

29 Feb

Ban gembos adalah bagian yang paling males bagi pengendara motor seperti kejadian yang tadi pagi saya alami sewaktu berangkat kerja. Banyak kejadian ban gembos, banyak pula asumsi mulai dari penebar paku dan ulah tukang tambal ban, dan ulang si tukang tambalnya sendiri. Kejadian saya tadi pagi berawal sewaktu di lampu merah menuju Jl. Yusuf Adiwinata, Menteng, saya merasa ban motor sudah ga beres, pas di check ternyata bener bannya kempes. Awalnya tak pikir kurang angin, setelah lampu hijau saya dorong motor ke arah Jl. Yusuf Adiwinata menuju Imam Bonjol. Di Jalan tersebut hanya ada 2 tukang tambal ban. Tidak jauh dari pom bensin ada tempat tambal ban pertama, orangnya Kakek2. Pas saya samperin dia bilang kl tambal ga bisa, asumsi saya mungkin masalah fisik. Kemudian saya jalan lagi dan ketemu ada tempat tambal ban ada 3 orang, 1 orang sptnya bosnya, dan 2 lagi sisanya yg pake wearpak ini crewnya. Nah disinilah tempat tambalnya.

Pastinya kamu-kamu pernah denger cerita miring mengenai ulah tukang tambal ban. Kebetulan saya juga pernah ngalamin. Pas ditempat sini, saya mulai taro motor dan mulai dikerjakan sama si abangnya. Pas ban dalem dibuka (ketauan deh gw ga pake tubless, hehe), ada 1 lubang bekas paku, dan 2 robek. Si abang bilang “mo diganti apa di tambal aja mas, kl ganti 28 rebu bannya IRC”. Saya pura2 mikir, secara duit pas2an gara2 semalem males ke ateem. “Ya udah ganti aje mas” meski sisa tinggal ribuan aje didompet :mrgreen:. Akhirnya ga jadi ganti ban gara2 stoknya habis, terpaksa di tambel. Setelah dikerjakan 3 tambelan, eh ternyata nongol lagi 2 lubang. Biasanya wajah tukang tambal ban seperti kesenangan kl jumlah lubang bertambah. Tapi dia ini beda, “gpp mas, nanti saya akalin deh”, trus dikerjakan lah. Metode tambal bannya agak beda dengan yg lain, ga pake kompor pemanas buat manasin karet ke lubang, tapi dia punya karet2 yang tinggal pasang. Gambarannya percis seperti koyo, buka tinggal tempel. Sayang ga sempat moto2, karna keterbatasan fungsi pada hape saya :)). Akhirnya dia buka karet yg ky koyo tadi 2 buah untuk nambel 2 lubang sisanya. Dan pas mo bayar dia bilang “15 ribu aja mas”. Saya bilang, “kan ini 5 lubang, gpp saya bayar 5 lubang aja”, tp dia bilang “gpp, lagian saya kan ga rugi koq”. Ya wis, karna dia ga mau jadinya saya bayar buat 3 lubang saja.

Secara keseluruhan cara pengerjaannya highly recommended, ga seperti tempat tambel yg pernah saya temuin. Btw, buat nemuin tempatnya ga susah karna jalanan situ cuman satu arah. Bukan maksud untuk promosi, hanya saya hanya salut saja tipe2 orang yg spt ini, di Jakarta pula lg !!. Two thumbs up.