14 Tahun Untuk Lidya Pratiwi

19 Jan

Sebelum memulai, berikut kutipan mengenai kasus yang menima Lidya Pratiwi yang saya ambil dari liputan6.com

Artis sinetron Lidya Pratiwi dan Muhamad Sukardi yang menjadi terdakwa dalam kasus pembunuhan terhadap Naek Gomgom Hutagalung divonis 14 tahun penjara. Putusan itu dibacakan Ketua Majelis Hakim Karel Tuppu di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Kamis (18/1) siang. Lidya dinyatakan secara sah dan meyakinkan bersalah menyebabkan meninggalnya Naek di kamar Tongkol 59 Putri Duyung Cottage Ancol, Jakut, akhir April tahun lalu [baca: Keluarga Artis Sinetron Berkomplot Membunuh].

Putusan tersebut sebenarnya lebih ringan tiga tahun dari tuntutan jaksa yang sebelumnya menuntut hukuman penjara 17 tahun. Usai persidangan, Lidya yang sempat menangis mendengar putusan itu menyatakan banding.

Yang masih menjadi pro kontra kasus ini ialah kenapa Lidya dihukum hanya 14 tahun pidana penjara? Sebaliknya, dilain pihak menganggap bahwa mengapa Lidya harus dijatuhi hukuman 14 tahun untuk perbuatan yang tidak dilakukan. Sebelum memulai tentunya kita harus sepakat bahwa hal yang dilakukan Lidya dan keluarga tergolong Kejahatan Kekerasan dan meski Lidya tidak melakukan pembunuhan terhadap Naek Gomgom tapi ia berkonspirasi atas tindakan tersebut.

Kejahatan kekerasan, mmh mau coba membahas kasus ini dari perspektif Keker ? secara baru semester kemarin ambil MK itu,  yang saya dapat hanya Teori Interaksionis Simbolik. Untuk kasus ini sepertinya tidak pas jika mengupas menggunakan teori tersebut, untuk itu saya hanya berpendapat apakah si Lidya ini pantas untuk mendapat hukuman 14 tahun atau tidak. Tulisan ini tidak membahas mengenai hukuman yang diberikan tapi akan memberikan gambaran kondisi Lembaga Pemasyarakatan yang mana akan dilalui oleh Lidya Pratiwi.

Pasca vonis Hakim tim pembela hukum Lidya menyatakan banding terhadap vonis Hakim, mengapa demikian ? karena mereka meyakini bahwa vonis Hakim karena 14 tahun tidak sebanding dengan uang yang 20 juta yang diambil, padahal banyak kasus serupa yang divonis tidak seberat itu. Tapi yang menjadi pertanyaan apakah kasus lain sampai menghilangkan nyawa orang lain ditambah dilakukan secara berencana. Jika merujuk ke kasus lain tentunya banyak, lihat aja kasus perampasan mobil-mobil ATM banyak terjadi yang belum lama sampai 3.5 milyar rupiah, tapi ga tau kelanjutan kasusnya bagaimana.

Atas kasus yang menimpa dirinya, Lidya banyak kehilangan kesempatan terutama karier dan sekolahnya terlebih kepercayaan masyarakat atau lebih tepatnya masyarakat memberi label/cap kepada Lidya sebagai pelaku kejahatan. Pemberian label atau labelling dimulai ketika ia mulai diproses atau dinyatakan terlibat atas kasus tersebut pada saat di Kepolisian yang mana tingkat Kepolisian merupakan proses awal dari Sistem Peradilan Pidana. Akibatnya atas pemberian label tersebut tentunya akan membatasi ruang gerak ia selepas dari masa tahanan. Tidak sedikit mantan narapidana yang “dikucilkan” dimasyarakat, karena masyarakat pada umumnya tidak melihat kasus secara keseluruhan. Yang ada hanya apa yang telah diperbuat oleh si mantan narapidana.

Kenapa masyarakat dapat membatasi ruang gerak mantan napi ? Hal tersebut yang masih menjadi polemik, kenapa ? padahal Sistem Pemasyarakatan di Indonesia menganut Sistem Reintegrasi Sosial yaitu dalam azas ini melihat bahwa tindak kejahatan merupakan konflik antara si pelaku kejahatan dengan masyarakat itu sendiri untuk itu keterlibatan masyarakat dalam proses pembinaan sangat diperlukan. Gambaran penghuni penjara/lapas dimata masyarakat Indonesia adalah orang yang tidak dapat dipercaya, selalu memanfaatkan kesempatan untuk kejahatan, dan gambaran-gambaran miring/ menyeramkan lainnya.

14 tahun bukan waktu yang sebentar, terlebih di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang mana seperti diketahui kehidupan didalam Lapas lebih keras. Di Indonesia sendiri konsep penjara dan narapidana sangat melekat kuat sebagai tempat orang-orang buangan (sampah masyarakat), tempat dimana segala jenis kejahatan berkumpul. Seperti diketahui kondisi Lapas di Indonesia yang banyak kekurangannya, khususnya daya tampung yang melebihi kapasitas. Lapas sering diasosiasikan sebagai Sekolah Tinggi Ilmu Kejahatan, dimana setiap orang yang masuk kedalamnya dapat menimba ilmu menjadi lebih “expert”. Jelas, jika dikaitkan dengan masalah over capacity tentunya didalam sel, penghuni bercampur dengan berbagai penghuni lainnya. Tidak ada pemisahan antara first offender (pelaku yang baru sekali terlibat dengan kejahatan) dan residivis. Hal tersebutlah dapat terjadi proses pembelajaran perilaku jahat, knowledge transfer, meskipun di dalam lapas penghuni diberikan pembinaan berupa pelatihan tapi hal tersebut tidak sebanding.

Selain hal itu banyak lagi terjadi penyimpangan, terkait pada satu entry point mengenai kapasistas lapas itu sendiri, dan dapat kita bayangkan bahwa apa yang akan terjadi jika di dalam lapas selama 14 tahun. Ini merupakan salah satu gambaran dari kondisi penjara di Indonesia, hal ini juga lah yang saya jadikan paper ujian akhir untuk mata kuliah Sistem Peradilan Pidana yang baru aja semester kemarin selesai. Dan ini yang masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah dalam menangani manajemen di Lapas itu sendiri.

Reintegrasi Sosial
About these ads

6 Responses to “14 Tahun Untuk Lidya Pratiwi”

  1. Iwan agustinus May 23, 2008 at 2:01 am #

    Buat pemerintah tolong Lidya Pratiwi diberi keringanan tiap tahun sama spt tommy suharto. jgn pilih kasih

    Buat keluarga naek saya turut duka cita. tapi kalo dilihat2 lagi Lidya Pratiwi itu tidak salah dia dijebak sama keluarganya

    Sebenarnya ini salah naek juga setau saya dia itu mau nyewa Lidya buat ML trus kena jebak sama paman Lidya. Ini semua ya salaha naek sendiri maniak ga punya moral suka free sex ga bisa nahan nafsu. kapok dia dihukum Tuhan dibuat mati. Pria stupid

    • tammy July 19, 2010 at 10:21 pm #

      bung, ati2 kalo bicara, sptnya anda mengenal betul siapa itu naek yah? jgn sok tau, naek itu orgnya terlalu baik, byk org yang mengambil keuntungan dr kebaikkannya, sy kenal dia sejak dr smp bersama2, jg mulut bung, itu perempuan yg gatel, naek itu dr keluarga berada dan dia sgt mandiri, dia sdh trs menerus menghindar tp dia akhirnya termakan omongan si perempuan gila itu kalo pamannya perlu uang, sayangnya naek termakan omongan itu…

  2. harriansyah May 23, 2008 at 12:49 pm #

    @Iwan agustinus

    jgn pilih kasih

    banyak pertimbangan si bro.. I bet everyone know it

  3. mei February 5, 2010 at 1:13 am #

    lidya yang tabah y

  4. Teuku December 24, 2010 at 6:22 am #

    Di balik semua kejadian itu pasti ada hikmahnya

  5. cienta canty July 23, 2011 at 5:43 am #

    membunuh ttp membunuh..hrs dhukum…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: